Kamis, 09 Juli 2015

SENDANG BIDADARI Desa Daren Nalumsari Jepara








 Repost Of BUMI KARTINI
1. Pendahuluan
Legenda Sendang Bidadari dan Joko Tarub ini berasal dari Desa Daren Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara. Sendang Bidadari merupakan sendang di Di Desa Daren Kecamatan Nalumsari Kabupaten Jepara. Sendang tersebut sumber air dalam bentuk kolam yang tidak begitu luas. Keadaan airnya tergolong jernih, disekitarnya terdapat tanaman-tanaman rimbun dan saat ini telah dipugar. Keadaan sendang telah dibangun dengan diberi tembok di sekitanya dan telah dipagar.
Sendang yang terlihat sederhana itu terkait dengan legenda tentang Joko Tarub dan Bidadari serta Nawangwulan. Cerita itu disertai dengan tempat berupa sendang yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa yang mempertemukan Joko Tarub dan Bidadari.Disana juga terdapat petilasan berupa makam Joko Tarub. Legenda ini bagi masyarakat Desa Daren termasuk sakral. Siapa Joko Tarub dan apa itu sendang bidadari diikisahkan dalam legenda Sendang Bidadari.

2. Joko Tarub dan Bidadari
Pada jaman dahulu ada seorang pengembara yang bernama Kadarisman yang berasal dari Kerajaan Mataram bersama abdinya bernama Dowo (Mbah Dowo). Karena dia belum menikah dan sering mengembara dia di juluki Joko Lelono. Waktu pengembaraannya sampai disebuah desa (sekarang Desa Daren) dia bertemu seorang janda yang bertempat tinggal di sebuah gubug/tarub, kemudian Joko Lelono dijadikan sebagai anaknya. Karena dia tinggal di sebuah gubug / tarub, sehingga dia dijuluki sebagai Joko Tarub.
Pada suatu hari pengembaraan Joko Tarub sampai di sebuah bukit kecil dia mendengar suara burung perkutut yang sangat merdu sehingga dia ingin menangkapnya. Waktu dia mengendap-endap ingin menangkap burung perkutut tiba-tiba dia mendengar suara orang yang sedang mandi sehingga tidak jadi menangkap burung perkutut itu. Karena ingin tahu siapa yang sedang mandi dia mengendap-endap menghampiri. Setelah diintip ternyata yang sedang mandi adalah 40 Bidadari. Karena penasaran dia mengambil salah satu pakaian bidadari tersebut dan dibawa pulang.
Pada waktu selesai mandi para Bidadari bermaksud pulang kembali ke alamnya. Ternyata salah satu Bidadari yang bernama Nawang Wulan tidak menemukan pakaiannya yan dipakai untuk terbang / selendang. Dia bersama saudara-saudaranya mencari kesana kemari tetapi tidak ditemukan. Karena tidak menemukan selendang Nawang Wulan dan mereka harus segera pulang, maka para bidadari memutuskan untuk meninggalkan Nawang Wulan sendiri di Bumi.

3. Menikah
Nawang Wulan berada sendirian di bumi dan tidak mempunyai sanak saudara sehingga merasa sangat kesepian dan sengsara. Kemudian Nawang Wulan berujar barang siapa yang bisa menolongnya kalau laki-laki akan dijadikan suaminya kalau perempuan akan dijadikan saudaranya. Pada suatu hari dia bertemu dengan Joko Tarub dan diboyong kerumahnya sehingga mereka menjadi suami istri.
Setelah berumah tangga Joko Tarub dan Nawang Wulan mempunyai seorang anak perempuan bernama Nawangsih. Selama berumahtangga Nawang Wulan sering mandi dan mencuci pakaian di sendang yang dulu sering dipakai untuk mandi bersama saudaranya, sehingga sendang tersebut dijuluki sendang Bidadari.

Selama menjadi suami Nawang Wulan Joko Tarub merasa heran karena persedian padi yang ada dirumahnya tidak habis-habis. Nawang Wulan pernah berpesan kepada Joko Tarub dan keluarganya apabila dia sedang memasak agar tidak diganggu atau dilihat oleh orang lain. Karena merasa penasaran, pada waktu istrinya sedang mencuci pakaian disendang, Joko Tarub ingin tahu apa yang sedang dimasak oleh istrinya tersebut. Kemudian Joko Tarub membuka tutup kwali yang dipakai istrinya untuk memasak. Betapa terkejutnya Joko Tarub ketika melihat masakan istrinya ternyata hanya sebatang padi.
Setelah habis mencuci Nawang Wulan memeriksa masakannya, ternyata sebatan padi yang dimasak tidak bisa menjadi nasi, sehingga Nawang Wulan menjadi curiga bahwa masakannya ada yang melihatnya, kemudian Nawang Wulan minta dibuatkan sebuah lesung untuk menumbuk padi menjadi beras. Sejak saat itu padi yang berada di tempat persediaan (lumbung) selalu ditumbuk dijadikan beras. Karena padi ditumbuk setiap hari maka persediaan padi yang ada dilumbung menjadi habis. Pada saat itulah Nawang Wulan menemukan pakaiannya / selendang yang dipakai untuk terbang.

4. Kepercayaan Rakyat
Setelah menemukan pakaian terbangnya Nawang Wulan bersama anaknya yang bernama Nawangsih pamit kepada Joko Tarub untuk pergi meninggalkannya dengan berpesan: kalau ingin bertemu dengan anaknya Joko Tarub diminta untuk membuat anjang-anjang yang dibawahnya diberi sekam dari ketan hitam yang dibakar. Oleh karena itu orang Daren sampai sekarang sekarang tidak berani membuat anjang-anjang termasuk rumah tingkat, juga tidak berani menanam padi ketan hitam. Di Desa Daren ada petilasan makam Joko Tarub yang sampai sekarang dianggap sebagai cikal bakal Desa Daren, setiap tanggal 29 bulan Suro di peringati. Untuk Sendang Bidadari setiap malam Jum’at wage banyak masyarakat melakukan ritual mandi disana. Sendang Bidadari disebut juga dengan sebutan Sendang Nur Cahyo Konon cerita barang siapa yang mandi di sendang tersebut maka wajahnya akan memancarkan sinar.
Selama bulan Syuro lalu sendang bidadari di desa Daren, Kecamatan Nalumsari, Jepara dibanjiri oleh banyak orang baik dari dalam maupun luar daerah. Pasalnya mereka ngalap berkah ingin awet muda dengan cara mandi di sendang tersebut. “Kegiatan ini sudah berjalan sejak lama. Utamaya tanggal 1 sampai 10 syuro pengunjung membanjir,” ujar petinggi daren Sumadi kepada reporter Sukahar.
Kegiatan ritual ini dimulai dengan selamatan pada tanggal 1 syuro sekaligus sebagai pembukaan kegiatan yang dipimpin oleh petinggi desa dengan menyediakan ‘uba rampe’seperti buceng, engkung ayam, jajan pasar dan lainnya. Kemudian para tamu yang sejak sore berdatangan secara beramai-ramai mandi di Sendang. Namun yang disayangkan antara pria dan wanita masih bercampur jadi satu sehingga kedepan perlu dibuatkan pemisah.
Untuk itu akan dibangun paving, taman, padar dan gapuro baru punya dana 10 juta dari swadaya. ”Bila sendang ini ditata akan menjadi lebih menarik membuat aman dan nyaman bagi para tamu yang dating untuk mandi.” Ujar petinggi menjelaskan.




Dalam kegiatan bulan syuro tersebut ditangani oleh Organisasi masyarakat Desa Daren yang sangat antusias diantaranya yaitu IPNU-IPPNU, Karang Taruna, FATAYAT NU dan Organisasi Pecinta Alqur'an (OPICQ). Sedang dalam kebersihan sehari- hari, ditangani oleh para santri dari pondok pesantren APIDA Daren di bawah asuhan Kiai Zarkasi Mukti Mawardi, kebetulan sendang ini dekat dengan pondok pesantren tersebut persisnya dibelakang masjid taqwa. Karenanya memudahkan pula para tamu yang ingim beribadah sholat setelah mengambil wudh dari air sendang tersebut.
Selain itu konon sendang bidadari ini jaman dulu tempat mandi para bidadari yang turun dari kahyangan. Suatu ketika Joko Tarub yang sedang berburu mengambil salah satu selendangnya lantas ditaruh dalam lumbung padi bagian bawah. Bidadari yang diambil selendanganya tidak dapat terbang lagi ke langit. Singkat cerita, Bidadari dan Joko Tarub membangun rumah tangga mempunyai satu anak. Joko Tarub belakangan dikenal oleh masyarakat dengan sebutan mbah Daren yang makamnya sekitar 200 meter arah barat dari sendang.
Nomor             : 17/PBB/A/XI/7354-7355/VII/2015
Lamp               : -
Hal                  : Undangan

Kepada Yang Terhormat :
PR/PK IPNU-IPPNU Se-Kec. Nalumsari
Di Tempat.



Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji bagi Allah swt, Sholawat serta salam kita haturkan pada baginda rosul Muhammad saw. Salam silaturrohim kami sampaikan, semoga kita senantiasa mendapatkan taufik hidayahNYA di dalam kita menjalankan segala aktifitas. Aamin

Sesuai keputusan rapat pengurus pada tanggal 27 Juni 2015 sekaligus serta dalam rangka meningkatkan rasa mahabah pada Allah SWT, Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Nalumsari berencana menyelenggarakan acara Buka Bersama.
Dengan adanya  hal  tersebut  maka  mohon  dengan  hormat  kehadiran Rekan/Rekanita besuk pada :

Hari/Tanggal               : Sabtu Legi 11 Juli 2015
Waktu                         : Pukul 15.30 WIB
Tempat                        : Gedung MWC NU Nalumsari
Catatan                        : 1. PR/PK Mengirimkan delegasi 5 IPNU 5 IPPNU
                                      2. Konstribusi Rp.50.000,-/Ranting
                                      3. Membawa perlengkapan Sholat

Demikian undangan kami buat, atas perhatian dan kehadiranya kami haturkan terima kasih.

Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thorieq

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Nalumsari, 5 Juni 2015 M
                                                   18 Ramadhlan  1436  H                  

Pimpinan Anak Cabang
IPNU-IPPNU Kecamatan Nalumsari




LUKMAN HAKIM                                                            ULYA JAMILA
                                                                                                              Ketua IPNU             Ketua IPPNU







NB: Acara dilanjutkan dengan terawih bareng Pengurus Ancab IPNU-IPPNU Nalumsari





MANUAL ACARA

NO
ACARA
WAKTU
KETERANGAN
1
Registrasi
15.00 – 15.45   WIB

2.
Opening Ceremony
ü  Pembawa Acara
ü  Tahlil
ü  Lagu Indonesia Raya dan Mars IPNU  - IPPNU
ü  Sambutan – sambutan
1.      PAC IPNU- IPPNU
2.      Pembina PAC IPNU- IPPNU
3.      MWC NU Nalumsari
4.      Camat Kecamatan Nalumsari+Membuka acara
15.45  -  16.30  WIB


Tri Nurul Ilmi
Burhanuddin
All


Lukman Hakim
Pembina PAC IPNU- IPPNU

MWC NU Nalumsari
Camat Kecamatan Nalumsari

3.
Sharing Bareng PAC IPNU-IPPNU Nalumsari
16.30 – 17.30
PAC IPNU-IPPNU Nalumsari

4.
Buka Bersama
17.30 – 18.00
All

5.
Solat Maghrib Berjamaah + Ngaji Bareng
18.00 – 18.45
All

6.
Solat Isya’ dan Tarowih Berjamaah
18.45 – 19.45
All










IRONI EKSISTENSI PENDIDIKAN SALAF


Pendidikan, sebuah kata yang kerap kali terngiang ditelinga manusia awam. Sebuah interaksi sosial berupa metode belajar mengajar, baik antara dua individu atau kelompok, dan secara formal ataupun non formal. Adakalanya juga bersifat tidak langsung atau dapat diartikan secara tersirat, dimana seperti ketika seseorang memperoleh suatu hal baru,yang sebelumnya itu belum didapatkannya, dan dari situlah diambil suatu pelajaran.
Pada perkembangannya, terutama di Indonesia sendiri. Pendidikan telah berpacu sejalan dengan berkembangnya zaman. Dimana salah satu contohnya adalah kebijakan pemerintah yang menaikkan standarisasi wajib belajar menjadi 12 tahun . Alasan tersebut tidak lepas dari harapan pemerintah guna meningkatkan kualitas SDM dinegeri ini.
Berkaca pada pernyataan tersebut, sudah dapat ditebak bahwa pantauan yang diprioritaskan pemerintah adalah sekolah-sekolah negeri yang mempunyai potensi memajukan SDM tersebut. Terutama juga bagi para pelajarnya yang mempunyai kemampuan lebih di dalam akademiknya.
Lalu yang sedikit menjadi permasalahannya adalah, mau di bawa kemana pendidikan yang berbasis salafi (Islami).yang sudah ada dan berkembang sejak masuknya ajaran agama Islam di nusantara. Dan juga telah menjadi sesepuh lembaga pendidikan  di negeri ini.
Ada beberapa metode pembelajaran dalam pendidikan salaf itu sendiri, seperti menggunakan model madrasah diniyyah, hingga pada yang namanya pondok pesantren.
Kebanyakan dari metode-metode pengajaran pendidikan seperti itu disampaikan oleh seorang ulama ataupun para kyai, yang notabene adalah seorang yang ahli dalam permasalahan agama ('alim). Dengan menggunakan kurikulum tetap dan masih memakai tradisi kuno, yaitu lewat kitab-kitab salaf, atau yang lebih dikenal dengan istilah kitab kuning. Yang di dalamnya mengajarkan macam-macam pelajaran ushuluddin, semisal ilmu Tauhid, Hadits, Tafsir, dan lain sebagainya.
Di Indonesia sendiri, sistem pendidikan ini terbilang masih minoritas. Dan faktor utama yang paling berpengaruh yaitu  kalah bersaing dengan model pendidikan umum sekarang. Karena pendidikan umum dinilai mempunyai arah kedepan yang jelas, sedangkan dari pendidikan salaf sendiri orang masih belum mengetahuinya.
Sistem pendidikan salaf yang mana masih menggunakan kitab kuning sebagai literatur dinilai sudah tidak lagi efektif jika melihat keadaan zaman. Pembahasan yang terkandung di dalamnya juga masih menggunakan logika era dulu. Yang pada akhirnya hal itu tidak singkron dengan kaedaan sekarang, yang tentunya juga banyak hal-hal baru yang tidak ada pada zaman dulu.
Dan selain itu, masih banyak alasan lagi yang menjadikan eksistensi pendidikan salaf semakin tertekan. Contoh salah satu diantaranya, juga tidak lepas dari arus globalisasi. Dimana seseorang dituntut siap menerima perubahan-perubahan pola hidup, sampai pola berpikirnya.
Ketika seorang berpikir bahwa nilai-nilai yang ada pada masalah salaf, sudah tidak terlalu penting. Dan menjatuhkan perhatian pada pendidikan umum. Maka kita pada dasarnya patut prihatin, karena hakikatnya  pelajaran-pelajaran yang ada pada kitab salaf, itu diibaratkan sebagai benteng dalam menata akidah dan akhlak kita. Agar tidak tergerus arus moderenisasi yang kebanyakan pada keadaannya bertentangan dengan aturan-aturan yang telah di syari'atkan.
Namun, kendati realitanya demikian, toh masih ada juga lembaga-lembaga salaf yang tetap eksis hingga saat ini. Setidaknya masih mampu membentengi diri dari moderenisasi. Yaitu antara lain seperti pondok pesantren Sarang, Rembang, Lirboyo Kediri, dan masih ada lagi ponpes-ponpes yang tersebar di kota-kota besar. Yang mana mereka masih melestarikan tradisi kuno, demi menjaga eksistensinya. Akan tetapi hal itu memang selayaknya harus di pertahankan jika tidak mau menjadi budaknya zaman.
Mungkin bagi mereka yang terlibat di dalamnya (menjadi bagian dari metode salafi) akan berharap banyak pada pemerintah, agar diberikan perhatian lebih atau paling tidak mendapat prioritas yang sama dengan pendidikan umum. Tapi itu kembali lagi pada realita yang terlihat, apakah akan ada perubahan atau masih tanpa perubahan?

Meminimalisir Penggunaan Teknologi Bagi Anak Mungkin Lebih Baik

''...(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan fitrah itu...(QS.ar-ruum 30)
         Fitrah, naluri keberagamaan manusia yang tersimpan rapi dalam diri sejak manusia ada di alam arwah sampai tersimpan lahir di dunia, dengan berbagai ragam pola hidup mulai keluarga, masyarakat dan lingkungan yang membawa pengaruh besar pada diri.
seakan-akan naluri itu sedikit demi sedikit tenggelam dan berubah arah sesuai fenomena dan keragaman budaya yang dianut. Bahwa semua anak yang dilahirkan adalah dalam keadaan fitrah (suci), demikian sabda Nabi SAW yang di riwayatkan Imam Bukhori.
           Fitrah (bahasa arab) yang berarti sifat, asal kejadian, kesucian, bakat atau tabiat. Terminologi fitrah diartikan berbeda-beda oleh para ahli dari berbagai bidang ilmu.
Namun tidak seperti harapan yang ada pada hakikat manusia itu sendiri, semua tentu berbalik arah dengan adanya berbagai jenis karagaman budaya, baik dilihat dari sisi agama, budaya, sosial dan tentunya juga pada moral remaja saat ini. Perkembangan teknologi yang terjadi saat ini semakin menunjak tinggi, dan teknologi tersebut tidak hanya dipakai oleh usia anak SMP sederajat saja, namun ironisnya sekarang ini pemakaian teknologi tersebut dipakai oleh berbagai kalangan tanpa mengenal umur, seperti anak balitapun sudah tidak sedikit lagi yang mahir menggunakannya, sehingga yang terjadi adalah anak-anak atau remaja menjadi malas untuk menjalankan aktivitas yang mestinya mereka lakukan seperti: mengaji, membantu orang tua, belajar, dan lain-lain.
           Akan tetapi tidak semua memberi dampak buruk terhadap anak dan remaja, pada sisi lain juga ada nilai positif yang terkandung dengan adanya kemunculan berbagai macam teknologi, semua  tergantung pada pribadi masing-masing, namun alangkah baiknya jika orangtua memberikan perhatian lebih kepada anaknya dalam arti memberikan apa yang sepantasnya di dapatkan untuk anak-anak dan juga remaja saat ini.