Pendidikan, sebuah kata yang kerap kali
terngiang ditelinga manusia awam. Sebuah interaksi sosial berupa metode belajar
mengajar, baik antara dua individu atau kelompok, dan secara formal ataupun non
formal. Adakalanya juga bersifat tidak langsung atau dapat diartikan secara
tersirat, dimana seperti ketika seseorang memperoleh suatu hal baru,yang
sebelumnya itu belum didapatkannya, dan dari situlah diambil suatu pelajaran.
Pada perkembangannya, terutama di
Indonesia sendiri. Pendidikan telah berpacu sejalan dengan berkembangnya zaman.
Dimana salah satu contohnya adalah kebijakan pemerintah yang menaikkan
standarisasi wajib belajar menjadi 12 tahun . Alasan tersebut tidak lepas dari
harapan pemerintah guna meningkatkan kualitas SDM dinegeri ini.
Berkaca pada pernyataan tersebut, sudah
dapat ditebak bahwa pantauan yang diprioritaskan pemerintah adalah
sekolah-sekolah negeri yang mempunyai potensi memajukan SDM tersebut. Terutama
juga bagi para pelajarnya yang mempunyai kemampuan lebih di dalam akademiknya.
Lalu yang sedikit menjadi
permasalahannya adalah, mau di bawa kemana pendidikan yang berbasis salafi
(Islami).yang sudah ada dan berkembang sejak masuknya ajaran agama Islam di
nusantara. Dan juga telah menjadi sesepuh lembaga pendidikan di negeri ini.
Ada beberapa metode pembelajaran dalam
pendidikan salaf itu sendiri, seperti menggunakan model madrasah diniyyah,
hingga pada yang namanya pondok pesantren.
Kebanyakan dari metode-metode pengajaran
pendidikan seperti itu disampaikan oleh seorang ulama ataupun para kyai, yang
notabene adalah seorang yang ahli dalam permasalahan agama ('alim). Dengan
menggunakan kurikulum tetap dan masih memakai tradisi kuno, yaitu lewat
kitab-kitab salaf, atau yang lebih dikenal dengan istilah kitab kuning. Yang di
dalamnya mengajarkan macam-macam pelajaran ushuluddin, semisal ilmu
Tauhid, Hadits, Tafsir, dan lain sebagainya.
Di Indonesia sendiri, sistem pendidikan
ini terbilang masih minoritas. Dan faktor utama yang paling berpengaruh yaitu kalah bersaing dengan model pendidikan umum
sekarang. Karena pendidikan umum dinilai mempunyai arah kedepan yang jelas,
sedangkan dari pendidikan salaf sendiri orang masih belum mengetahuinya.
Sistem pendidikan salaf yang mana masih
menggunakan kitab kuning sebagai literatur dinilai sudah tidak lagi efektif
jika melihat keadaan zaman. Pembahasan yang terkandung di dalamnya juga masih
menggunakan logika era dulu. Yang pada akhirnya hal itu tidak singkron dengan
kaedaan sekarang, yang tentunya juga banyak hal-hal baru yang tidak ada pada
zaman dulu.
Dan selain itu, masih banyak alasan lagi
yang menjadikan eksistensi pendidikan salaf semakin tertekan. Contoh salah satu
diantaranya, juga tidak lepas dari arus globalisasi. Dimana seseorang dituntut
siap menerima perubahan-perubahan pola hidup, sampai pola berpikirnya.
Ketika seorang berpikir bahwa
nilai-nilai yang ada pada masalah salaf, sudah tidak terlalu penting. Dan
menjatuhkan perhatian pada pendidikan umum. Maka kita pada dasarnya patut
prihatin, karena hakikatnya pelajaran-pelajaran
yang ada pada kitab salaf, itu diibaratkan sebagai benteng dalam menata akidah
dan akhlak kita. Agar tidak tergerus arus moderenisasi yang kebanyakan pada
keadaannya bertentangan dengan aturan-aturan yang telah di syari'atkan.
Namun, kendati realitanya demikian, toh
masih ada juga lembaga-lembaga salaf yang tetap eksis hingga saat ini.
Setidaknya masih mampu membentengi diri dari moderenisasi. Yaitu antara lain
seperti pondok pesantren Sarang, Rembang, Lirboyo Kediri, dan masih ada lagi
ponpes-ponpes yang tersebar di kota-kota besar. Yang mana mereka masih melestarikan
tradisi kuno, demi menjaga eksistensinya. Akan tetapi hal itu memang selayaknya
harus di pertahankan jika tidak mau menjadi budaknya zaman.
Mungkin bagi mereka yang terlibat di dalamnya
(menjadi bagian dari metode salafi) akan berharap banyak pada
pemerintah, agar diberikan perhatian lebih atau paling tidak mendapat prioritas
yang sama dengan pendidikan umum. Tapi itu kembali lagi pada realita yang
terlihat, apakah akan ada perubahan atau masih tanpa perubahan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar